Google

Sunday, 10 February 2013

Metode-metode Total Quality Management

Selain Deming's Theory of Profound Knowledge di artikel sebelumnya, untuk memberikan gambaran apa itu TQM, mari kita pahami beberapa metode yang diperkenalkan oleh beberapa konsep Total Quality Management.

Metode W. Edwards Deming  (Oct.1900 – Dec.1993)
Metode-metode yang diperkenalkan TQM antara lain berasal dari W. Edwards Deming dengan menawarkan konsep yang dikenal sebagai Deming Cycle atau Shewhart Cycle. Metode ini bicara mengenai  hubungan kerjasama semua lini departemen (riset, desain, produksi, dan pemasaran) dalam memenuhi  kebutuhan dan kepuasan pelanggan atas produk yang dihasilkan.  Menurutnya perlu ada tes terlebih dulu atas sebuah informasi sebelum diambil sebuah keputusan. Ada empat langkah dalam Deming Cycle: Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau dikenal juga sebagai Plan-Do-Study-Act (PDSA).

Metode lain yang dikenal dari Deming adalah Deming four teen point yang diantaranya berisi konsistensi dalam perbaikan produk, pelembagaan kepemimpinan dan training, respek pada kebutuhan dan pemberdayaan karyawan, dan kerjasama antar departemen. Deming seven deadly, merupakan ringkasan dari pandangan Deming terhadap faktor-faktor yang dapat merintangi transformasi menuju bisnis berkualitas. Poin yang bisa diambil antara lain adalah kurangnya ketetapan tujuan dalam memberikan kualitas, mementingkan keuntungan dan kepentingan jangka pendek disertai kurangnya perencanaan jangka panjang, pemborosan biaya kesehatan dan garansi, dan evaluasi serta pelatihan karyawan yang tidak tepat.

Metode Joseph Moses Juran (Dec 1904 – Feb 2008) 
Sedangkan metode yang diperkenalkan Joseph M. Juran, diantaranya dikenal sebagai Juran’s Three Basic Steps to Progress yang mengungkapkan bahwa untuk mencapai kualitas tingkat tinggi bisa dilakukan dengan perbaikan terstruktur dan berkesinambungan, program pelatihan, dan terbentuknya komitmen. Berikutnya terdapat konsep yang dikenal sebagai Juran’s Ten Steps to Quality Improvement, yang diantaranya menekankan perlunya kesadaran terhadap kebutuhan dan peluang untuk melakukan perbaikan, menetapkan tujuan dan mengorganisasi untuk mencapainya, menyediakan pelatihan, mendokumentasikan dan mengkomunikasikan pencapaian, serta melaksanakan proyek-proyek yang ditujukan untuk pemecahan masalah.

Selain dua di atas, dikenal pula The Pareto Principle. Menurut prinsip ini organisasi harus memusatkan terlebih dulu energinya pada sumber masalah yang sedikit tetapi vital dan  menyebabkan sebagian besar masalah, tanpa harus mengabaikan masalah-masalah yang dianggap kurang vital. Terakhir adalah The Juran Trilogy yang merupakan pandangan Juran terhadap tiga fungsi manajerial yang utama, yaitu quality planning, quality improvement, dan quality control. Bisa diterjemahkan sebagai perencanaan kualitas, pengembangan kualitas, dan pengendalian kualitas secara terus menerus. Perbaikan secara terus menerus dilakukan melalui pengembangan infrastruktur dan membentuk tim-tim yang mendorong perbaikan kualitas di lini operasional dengan minimum inspeksi.

Metode Philip B ayard Crosby  (June 1926 – August 2001)
Dalil-dalil manajemen mutu dari Crosby diantanya adalah mendefinisikan kualitas sebagai hal yang sama dengan persyaratan, sistem kualitas adalah pencegahan resiko, zero defects adalah standard yang perlu digunakan, dan price of non conformance (biaya ketidaksesuaian produk) menjadi ukuran mutu. Crosby juga memperkenalkan konsep yang populer disebut Crossby Quality Vaccine, terdiri atas tiga unsur yaitu determinasi, pendidikan, dan pelaksanaan. Determinasi adalah suatu sikap dari manajemen untuk tidak menerima proses, produk, atau jasa yang tidak memenuhi persyaratan seperti reject, lead delivery, wrong  shipment, dan lain-lain.

Ada lagi konsep yang diwariskan pak Crossby, dikenal sebagai Crossby Four Teen Step to Quality. Diantaranya berisi komitmen manajemen, membentuk quality team, mengidentifikasikan sumber dan potensi masalah, menghitung biaya upaya peningkatan kualitas, meningkatkan kesadaran dan komitmen terhadap kualitas pada semua karyawan, segera memperbaiki  masalah yang telah diidentifikasi, program zero defects, melatih para penyelia untuk bertanggung jawab dalam program kualitas tersebut, membentuk tim untuk mendorong perbaikan terus-menerus, dan  mendorong  keterlibatan karyawan.

Perangkat TQM
Quality Management bukan merupakan investasi jangka pendek dan bukan pula solusi instant  untuk masalah manajemen organisasi. Untuk dapat memperoleh manfaat yang berdasar atas sistem manajemen mutu, perusahaan harus mempunyai komitmen dan budaya kualitas. 

Banyak perangkat atau panduan yang bisa digunakan untuk menuju manajemen mutu terpadu (TQM). Penggunaan tool ini tergantung pada kondisi dan kesiapan organisasi. Diantara tool tersebut adalah Analisis SWOT, Analisis Tulang Ikan, program 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), Statistical Process Controll, QMS ISO 9001, dan sebagainya. _CMIIW_

No comments: